[:id]Bincang Pakar dan Aktivitas Anak dengan Hambatan Fungsi Intelektual (KJF Disabilitas)[:]

[:id][vc_row][vc_column][vc_gallery interval=”3″ images=”6982,6990,6987,6991,6983,6986,6981,6988,6989,6992″ img_size=”full”][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]Pada hari Minggu tanggal 17 Maret 2019, Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) Disabilitas menyelenggarakan Kegiatan Bincang Pakar dan Aktivitas Bersama Anak dengan Kebutuhan Khusus (ABK). Kegiatan ini merupakan kolaborasi Jurusan Psikologi dengan Sanggar Cendikia Malang dan diselenggarakan untuk menyambut Peringatan Hari Down Syndrome Internasional pada tanggal 21 Maret. Mengusung tema Ayah Bunda Aku Bisa, kegiatan ini bertujuan mengembangkan awareness berbagai lapisan masyarakat terkait dengan isu ABK.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Jurusan Psikologi Cleoputri Al Yusainy, Ph.D. Dalam sambutan pembukaannya, beliau menyampaikan komitmen Jurusan Psikologi terkait isu disabilitas dan kesehatan mental. Kegiatan ini diharapkan dapat menjembatani kajian akademis agar dapat diimplementasikan secara nyata bagi komunitas. Interaksi dengan komunitas juga membuat akademisi memiliki gambaran lebih konkrit dengan kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, kerjasama dengan Sanggar Cendikia juga membuka kesempatan bagi mahasiswa Jurusan Psikologi untuk bersinergi. Harapan tersebut disambut baik oleh Eyang Wiwik Joewono, pendiri Sanggar Cendikia.

Dalam kegiatan ini hadir peserta talkshow yang merupakan orang tua, guru, mahasiswa, dan pemerhati anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam talkshow tersebut dihadirkan 2 orang pakar sebagai narasumber yaitu Ulifa Rahma, M.Psi., Psikolog (Dosen Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya) dan Amelia Aziz Daeng M., M.Psi., Psikolog (Pengelola Klinik Psikologi Anak dan Keluarga Beloved Kanti). Peserta talkshow dipersilahkan untuk mengajukan permasalahan dan informasi terkait dengan penanganan anak-anak berkebutuhan khusus, utamanya terkait dengan down syndrome. Benyak hal yang ingin ditanyakan dan diketahui oleh para peserta, antara lain tentang masa depan pendidikan ABK, tentang cara sekolah mengakomodasi potensi ABK serta mengakomodasi kurikulum, begitu pula cara menghadapi stigma di masyarakat umum. Dalam suasana yang santai dam hangat, para peserta dapat berdiskusi secara interaktif dengan para pakar. Melalui kesempatan ini pula, para pakar menginformasikan beberapa layanan psikologi yang dapat mendukung ABK, misalnya terapi, konseling, dan pemberdayaan orang tua. Baik Jurusan Psikologi yang memiliki Pusat Kajian Terapan Psikologi (PKPT) maupun Beloved Kanti membuka diri untuk menjadi partner bagi orang tua, guru, maupun pemerhati ABK.

Selain itu turut hadir pula anak-anak, yang sebagian besarnya merupakan (ABK). Dalam situasi yang inklusif, anak-anak mengikuti aktivitas bermain bersama dipandu oleh volunteer mahasiswa Jurusan Psikologi UB dan Sanggar Cendikia. Walaupun ditemani suasana rintik hujan, anak-anak menikmati ragam aktivitas yang  menyenangkan, antara lain bernyanyi dan menari bersama, melipat kertas, bermian puzzle raksasa, dan bercocok tanam. Bahkan dalam aktivitas bercocok tanam, anak-anak melakukannya bersama dengan orang dewasa. Sepulang dari kegiatan, masing-masing anak membawa pulang pot berisi tanaman sebagai souvenir. Anak-anak ABK diberi kesempatan untuk tampil dan menunjukkan kemampuannya. Selain itu dipamerkan karya foto dari Hafidz, anak down syndrome yang memiliki minat di bidang fotografi.

Hari / Tanggal : Minggu, 17 Maret 2019
Waktu : 08.00 – 12.00 WIB
Tempat : Gazebo & Halaman Gedung A FISIP UB[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][:]

Scroll to Top